Tampilkan postingan dengan label my books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my books. Tampilkan semua postingan

20 Juni 2011

Bank Grameen

Kemiskinan bukanlah satusatunya tantangan serius yang dihadapi Bangladesh. Seperti di Indonesia dahulu, diskriminasi juga menyebabkan wanita Bengali berada dalam kondisi yang sangat sulit, kebanyakan keluarga hanya akan menyekolahkan anak lakilaki mereka karena lakilaki yang akan menjadi pencari nafkah pada masa depan. bukan hanya itu, anak lakilaki selalu punya makanan lebih banyak dan bagi perempuan, bersekolah atau berkumpul di tempat umum adalah sesuatu yang tabu. Kebiasaan ini masih dipatuhi sampai sekarang (tahun 1990).

Sistem mas kawin adalah sesuatu yang tragis, perlakuan yang kejam dan diskriminatif terhadap perempuan di Banglades. Seperti di India, pengantin wanita di Banglades harus memberi keluarga suaminya berupa maskawin berupa barang, kekayaan atau uang tunai yang sepadan. Meski praktik ini seharusnya melanggar hukum, istri yang berasal dari keluarga yang terlalu miskin untuk memberikan maskawin cukup, sering mendapatkan perlakuan buruk dan kejam dari suami serta ibu mertuanya. Pada akhirnya ia mungkin diusir atau dalam skenario terburuk, dipukuli sampai mati. Telah terjadi beberapa kasus dimana seorang suami membakar kain sari istrinya dan membiarkan sang istri tewas terbakar. Untuk alasan apapun itu, hal tersebut merupakan suatu tindak kejahatan dan anehnya mereka tidak mendapatkan hukuman. Itulah sebabnya, terutama di keluarga petani, kelahiran anak perempuan merupakan kekecewaan besar.

Perempuan Bangladesh harus hidup dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Istri tidak boleh bebas berpergian, bahkan berbelanjapun dikerjakan oleh suami. Hanya sedikit suami yang bisa menghasilkan cukup uang untuk menghidupi keluarganya dengan nyaman dan banyak wanita ingin bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Sayangnya, sedikit sekali tempettempat yang memperbolehkan mereka bekerja. Keadaan ini sama dengan Indonesia era Kartini dahulu.

Tetapi sekarang wanita memiliki teman dan sekutu. Ada sebuah bank yang memberikan pinjaman kepada wanita untuk membantu mereka agar mandiri. Namanya bank Grameen (Grameen artinya desa). Suku bunganya normal, tapi untuk meminjam tidak diperlukan jaminan, bank ini memberikan pinjaman atas dasar kepercayaan. Sebelum munculnya Bank Grameen, tentu saja tidak ada bank yang mau meminjamkan uang kepada wanita tanpa modal atau jaminan.

Bank itu didirikan oleh Muhammad Yunus yang berasal dari Banglades, dengan uang 30 dollar yang berasal dari tabungan pribadinya. Hanya dalam waktu empat belas tahun, upaya ini berkembang menjadi Bank Grameen, dengan nilai sekitar 220 juta dollar. 94% peminjamnya adalah perempuanperempuan miskin.
Bank untuk kaum miskin, mengagumkan bukan?
Prof. Yunus mengunjungi Bank Grameen yang dibangunnya
Kondisi Bank Grameen, tidak ada bangunan, namun sistem yang bekerja
Dengan keinginan untuk memberikan kemandirian kepada wanita, yang bahkan tidak diijinkan untuk berpergian, ia memulai dengan membagikan 30 dollar kepada 42 wanita desa, sambil menyarankan mereka berternak ayam. Ketika ayam mulai bertelur, wanitawanita itu bisa menjual telurnya. Kemudian ia mengajari mereka cara menabung uang sedikit demi sedikit. Dr.Yunus percaya kepada wanita karena berdasarkan pengalaman pribadinya meminjamkan uang kepada pria, banyak yang tidak menepati janji mereka. Ketika hari mengembalikan uang tiba, kemungkinan besar semua uangnya sudah lenyap, dihabiskan untuk mabukmabukan. Sementara wanita, khususnya wanita miskin, cermat sekali dalam membayar bunga pada hari yang ditentukan. Kemudian, Dr. Yunus membagi wanitawanita tersebut ke dalam beberapa kelompok, sehingga jika seseorang tidak sanggup membayar pinjamannya tepat waktu, orang lain dalam kelompoknya dapat memberikan pinjaman, ia tau dengan saling membantu para wanita ini akan mendapatkan keuntungan tersendiri.

Bagaimanapun, wnitawanita itu harus mempelajari aritmatika untuk membuat perhitungan uang. Mereka juga harus belajar membaca. Lambat laun para wanita akan menyadari pentingnya pendidikan bagi anakanak dan mereka sanggup membiayai pendidikan anakanak dengan uang yang mereka hasilkan sendiri. Saat para wanita mulai mengarahkan pandangan kepada masyarakat, maka saat itulah segala sesuatu akan mulai membaik.

“toto-chan’s children”
Tetsuko kuroyanagi

20 Februari 2011

Big Question


Sampai saat ini, banyak pertanyaan muncul di otak saya, salah satunya adalah :

"Sampai dimana kami sebagai arsitek dan perencana kota dapat menyumbangkan pemikiran dalam suatu masyarakat yang sedang mengalami transformasi. Masalah mana, dari begitu banyaknya masalah yang menyangkut kehidupan kota, yang sebenarnya merupakan persoalan pokok bagi para arsitek?"

"Arsitektur Kota Jawa, Kosmos, Kultur dan Kuasa"
Jo Santoso

19 Februari 2011

Ajeg Bali

Bali terkenal dengan kebudayaannya, selain memiliki potensi wisata alam yang luar biasa. Namun, Bali sekarang ini mengalami perubahan secara besarbesaran sejak investor asing masuk dan industri wisata mulai berkembang.

Dari awal, Bali memiliki sistem nilai, norma dan tatanan budaya yang kokoh, harmonis dan lestari, sampai para investor datang yang membuka banyaknya lapangan kerja, dari satu sisi dapat mengangkat makro ekonomi Bali, namun jumlah lapangan kerja masih saja terbatas jika disandingkan dengan jumlah tenaga kerja. Di beberapa sektor, pekerja imigrant dari luar Bali datang dan membuat persaingan semakin ketat.

Masuknya para investor, juga membuat perubahan dalam guna tanah dan budaya di Bali. Bukan hanya konversi lahan dari pertanian ke non pertanian, namun perubahan lahan yang dikarenakan adanya kegiatan wisata tersebut mulai mengancam lahan yang digunakan untuk peribadatan. Agama dan Budaya di Bali, sangat tidak dapat terpisahkan, sampai Bali dikenal dengan 'Pulau Dewata', begitu pula dengan budaya yang dibawa dari luar, sedikit demi sedikit mulai mengurangi kesakralan tanah dewata.


Serangan tidak hanya berasal dari sistem kapitalisas ekonomi, namun juga serangan bom bali yang mengemparkan saat itu, setelah terjadi serangan, Bali sejenak seakan terhenti denyut nadinya, semua berduka. Bali yang dianggap oleh para teroris tersebut tempat orangorang 'berdosa'. Apakah kesemuanya itu salah Bali sendiri? Bali tidak memiliki proteksi untuk itu. 


Perubahan ini sangat mengkhawatirkan bagi Bali, sehingga Bali harus membuat 'resep' untuk pembangunan yang berkelanjutan, menyeimbangkan antara alam dengan kegiatan manusia, mulai merevitalisasi kembali kota dan bangunan yang bersejarah dan mulai mengadaptasi kearifan lokal untuk membentengi diri dari pengaruh buruk globalisasi yang dapat menghancurkan budaya. dari sinilah, para 'cendekiawan urban' mulai menanamkan 'Ajeg Bali'.


Kata 'Ajeg' mengandung makna kuat, tegak dan dalam arti tertentu, sebuah versi yang lebih kuat dari paham "kebalian".


Ajeg artinya kita harus kembali ke asal. Kembali ke Bali yang murni dan damai, maka segalanya tertib dan benar. Ajeg berarti aman dan mampu melawan teroris dan Ajeg Bali menawarkan kepada kita jawaban terhadap modernisasi yang tak berisi.


Paham Ajeg adalah suatu kategori longgar yang menawarkan cara yang enak kepada berbagai kelompok masyarakat untuk berbicaratentang Bali. Mereka pun menyukai cara Ajeg Bali yang dikomunikasikan di tv lokal, warta berita, Sekala dan Niskala, opera sabun Bali yang menggantikan sinetron. Walaupun format yang ditampilkan agak folkloristik dari acara wicara di Bali TV tampak kaku, namun setidaknya Bali telah menanamkan kembali sesuatu yang secara esensial religius dan berakar di desa adat.


Kearifan lokal sangat diperlukan dalam mempertahankan nilai dan budaya asli kita yang baik, dengan ini, diharapkan Bali  dan berbagai wilayah di Indonesia dapat berkembang, bukan hanya sustainable economic, sustainable environment namun sampai pada tahap sustainable development dalam berbagai sektor.



"Bali Benteng Terbuka, 1995 - 2005"

Henk Schulte Nordholt